PapuaBaratDayaOnlineNews,SORONG- Tingginya harga pupuk kimia mendorong sejumlah petani di Kabupaten Sorong mulai beralih menggunakan pupuk organik berbasis maggot atau larva lalat Black Soldier Fly (BSF). Selain dinilai lebih hemat, penggunaan pupuk tersebut juga disebut mampu meningkatkan hasil panen.

Hal itu disampaikan Kepala Dinas Lingkungan Hidup Papua Barat Daya, Julian Kelly Kambu, usai peresmian Rumah Maggot Keli dan Kandang Lalat Black Soldier Fly (BSF) di Jalan Jambu, Aimas, Kabupaten Sorong, Kamis (30/4/2026).
Peresmian fasilitas tersebut ditandai dengan pengguntingan pita oleh Staf Ahli Bidang Otonomi Khusus Papua Barat Daya, Beatriks Msiren.
Julian mengatakan pengembangan rumah maggot tidak hanya bertujuan mengatasi persoalan sampah organik, tetapi juga menghasilkan produk turunan bernilai ekonomi yang dapat dimanfaatkan masyarakat, khususnya petani dan peternak.
“Magot ini bukan hanya menyelesaikan masalah sampah, tetapi juga memberi manfaat ekonomi, termasuk untuk sektor pertanian dan peternakan,” kata Julian.
Menurut dia, hasil budidaya maggot dapat diolah menjadi pupuk organik dan pakan ternak berprotein tinggi.
Salah satu petani di Kabupaten Sorong, Wawan, mengaku mulai mengurangi ketergantungan terhadap pupuk kimia sejak menggunakan pupuk olahan maggot di lahannya.
Sebelumnya, seluruh kebutuhan nutrisi tanaman bergantung pada pupuk kimia dengan biaya produksi yang cukup tinggi. Kini, ia mulai mengombinasikan pupuk kimia dan pupuk organik maggot dengan komposisi 50:50.
“Dulu kami 100 persen pakai pupuk kimia, biayanya cukup berat karena harga pupuk sekarang mahal. Setelah coba pupuk olahan maggot, sekarang kami kombinasikan 50:50,” kata Wawan.
Ia menyebut perubahan tersebut membuat biaya produksi lebih efisien, sekaligus meningkatkan hasil panen.
“Biaya pupuk jauh lebih hemat, tapi hasilnya justru memuaskan. Produksi panen saya meningkat dibanding sebelumnya,” ujarnya.
Selain lebih hemat, Wawan menilai penggunaan pupuk maggot membuat kondisi tanaman lebih sehat.
“Tanaman terlihat lebih sehat dan tanah tidak terlalu keras seperti saat full pakai pupuk kimia,” katanya.

Pupuk organik maggot berasal dari residu budidaya larva BSF atau kasgot yang mengandung unsur hara seperti nitrogen, fosfor, dan kalium, serta mikroorganisme yang bermanfaat untuk meningkatkan kesuburan tanah.
Julian menyebut Rumah Maggot Keli memiliki kapasitas awal sekitar 50 kilogram maggot dengan target penanganan sampah organik mencapai 400 hingga 500 kilogram per hari.
Menurut dia, fasilitas tersebut diharapkan menjadi model pengelolaan sampah organik yang terintegrasi dengan sektor pertanian dan peternakan di Papua Barat Daya.
Wawan berharap pemanfaatan pupuk berbasis maggot dapat diperluas agar lebih banyak petani terbantu menghadapi tingginya harga pupuk komersial.
“Kalau ini dikembangkan lebih luas, petani sangat terbantu. Lebih hemat, hasil panen bagus, dan tanah juga lebih sehat,” ujarnya.[AR]











Komentar
Silakan login untuk berkomentar.