PapuaBaratDayaOnlineNews,SORONG- Suasana khidmat di Aimas Hotel pada Selasa (14/04/26) saat Pemerintah Kabupaten Sorong menggelar acara silaturahmi dan Halalbihalal. Kegiatan yang dihadiri oleh jajaran Organisasi Perangkat Daerah (OPD) dan tokoh masyarakat ini diawali dengan pembacaan Kalam Ilahi yang menyejukkan suasana.
Wakil Bupati Sorong, Ahmad Sutedjo, yang membuka secara resmi kegiatan tersebut, menyampaikan pesan mendalam mengenai moderasi beragama dan kerukunan sosial.
Mengawali sambutannya, beliau menyampaikan permohonan maaf lahir dan batin atas nama pribadi maupun Pemerintah Kabupaten Sorong.
Dalam arahannya, Ahmad Sutedjo menggunakan analogi seni musik untuk menggambarkan indahnya keberagaman di Kabupaten Sorong. Beliau mengibaratkan masyarakat seperti kumpulan alat musik mulai dari gitar, drum, hingga gamelan yang memiliki bentuk, ritme, dan cara memainkan yang berbeda-beda.

“Baik musik Bali, Jawa, atau lainnya, alatnya berbeda. Ada kenong, ada gong. Cara memukulnya beda, temponya beda. Tapi apabila disatukan dengan harmoni, maka akan menghasilkan suara yang merdu dan indah,” ujar Wabup Sutedjo.
Menurutnya, memaksakan satu alat musik dimainkan dengan cara alat lain hanya akan merusak keindahan. Begitu pula dengan kehidupan beragama; setiap umat harus menjalankan ibadahnya dengan baik tanpa harus saling mengganggu atau memaksakan keseragaman.
Lebih lanjut, Ahmad Sutedjo memberikan edukasi penting mengenai batasan dalam bertoleransi dengan membedakan secara tegas antara ritual dan tradisi keagamaan. Beliau menjelaskan bahwa ritual merupakan wilayah ibadah inti yang bersifat privat dan sakral, sehingga tidak boleh dicampuradukkan atau dipaksakan untuk dilakukan bersama demi menghormati keyakinan masing-masing.
Sebaliknya, tradisi keagamaan seperti Halalbihalal, pawai budaya, atau perayaan hari besar lainnya dipandang sebagai ruang publik yang inklusif. Pada ranah tradisi inilah, seluruh elemen masyarakat dari berbagai latar belakang diperbolehkan untuk bersatu, berpartisipasi, dan mempererat tali persaudaraan tanpa sekat perbedaan. “Ritual jangan dipaksakan untuk bersama, tetapi kalau tradisi mari kita bersama-sama,” tegasnya.
Menutup arahannya, Ahmad Sutedjo mengingatkan bahwa rasa nyaman, tenang, dan tenteram tidak datang dengan sendirinya, melainkan harus diusahakan melalui harmoni. Ia menekankan bahwa kedamaian di tengah masyarakat adalah modal utama bagi kelancaran pembangunan di Kabupaten Sorong.
Acara ini diharapkan mampu mempererat tali persaudaraan antarumat beragama dan memperkuat sinergi antara pemerintah daerah dengan seluruh elemen masyarakat demi kemajuan Kabupaten Sorong ke depan.[DA]











