PapuaBaratDayaOnlineNews,SORONG-Pagi itu, Rumah Etnik Papua tak sekadar menjadi bangunan kayu yang berdiri di atas tanah Aimas, Kabupaten Sorong. Ia menjelma ruang perjumpaan antara ilmu pengetahuan dan kearifan lokal, antara tamu dari berbagai penjuru Indonesia dan budaya Papua yang hidup, bernapas, dan berbicara lewat ritual adat.

Para dekan dan delegasi Fakultas Kedokteran se-Indonesia yang datang pada Jumat (30/01/26) tidak langsung melangkah masuk. Mereka berhenti sejenak di ambang kawasan rumah etnik sebuah jeda simbolik sebelum diterima secara adat. Di hadapan mereka, tarian selamat datang digelar. Musik tradisional mengalun, kaki para penari menghentak tanah, mengabarkan bahwa tamu telah tiba dan dihormati.
Prosesi adat berlangsung berlapis. Kalung adat disematkan di leher para tamu sebagai tanda penghargaan. Kaki kemudian menapak piring gantung ritual penerimaan yang sarat makna, seolah menegaskan bahwa setiap langkah yang masuk ke tanah ini harus dijalani dengan hormat dan kesadaran. Dari sana, para tamu diantar masuk ke dalam rumah etnik, diiringi tarian dan senyum hangat.

Sebelum langkah itu benar-benar berlanjut, suara lembut namun tegas terdengar. Mitshi Wanma, pemilik Rumah Etnik Papua, menyapa para tamu dalam bahasa daerah. Sambutan itu bukan formalitas, melainkan ungkapan sukacita yang lahir dari tradisi turun-temurun.
“Kami senang Bapak dan Ibu datang ke sini untuk melihat budaya kami, sekaligus mempelajari rumah-rumah adat Papua. Selamat datang di Bumi Cenderawasih, khususnya di Aimas,” ujarnya.
Di tanah Papua, bahasa bukan sekadar alat komunikasi, melainkan identitas. Dengan bahasa daerah itulah para tamu diterima bukan hanya sebagai pengunjung, tetapi sebagai sahabat yang dihormati adat.
Kunjungan ini menjadi momen penting bagi Rumah Etnik Papua. Di tempat inilah beragam rumah adat dari berbagai suku Papua berdiri berdampingan, merepresentasikan keberagaman yang tak terpisahkan dari jati diri orang Papua. Para delegasi diajak berkeliling, menyusuri satu demi satu rumah adat, mendengarkan penjelasan tentang filosofi, fungsi, dan nilai yang terkandung di dalamnya.
Sesekali tawa pecah. Beberapa tamu mencoba mengenakan pakaian adat, berpose di depan rumah tradisional, mengabadikan pengalaman yang mungkin tak akan terulang. Di sudut lain, sajian makanan dan minuman khas Papua tersaji sederhana, namun penuh cerita tentang alam dan cara hidup masyarakat setempat.

Bagi Meiky Fredianto, Kaprodi Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), pengalaman ini terasa istimewa. Ini adalah kunjungan pertamanya ke Papua.
“Luar biasa. Dalam satu tempat kita bisa melihat berbagai rumah adat dan budaya dari banyak suku di Papua. Sangat menarik,” katanya. “Apalagi kami juga sempat mengenakan pakaian tradisional dan berfoto.”tambahnya dengan mimik gembira
Ia melihat Rumah Etnik Papua bukan sekadar destinasi wisata, tetapi ruang belajar yang hidup. Menurutnya, pengembangan ke depan bisa memperkaya pengalaman pengunjung melalui pertunjukan seni, tarian, dan cerita di balik setiap budaya.
“Budaya Papua sangat kaya. Akan lebih menarik jika kisah dan seni yang menyertainya juga ditampilkan, seperti di pusat-pusat wisata budaya lainnya,” ujarnya.
Dalam kesempatan ini ia juga mengajak untuk turis lokal dan mancanegara sebelum melancong ke wisata lain di Papua Barat Daya menyempatkan diri kerumah Etnik Papua Jalan baru Jl. Raya Aimas – Klamono No.km.21, Malawili, Kec. Aimas, Kabupaten Sorong, Papua Barat Daya.
Di tengah derasnya arus modernisasi, Rumah Etnik Papua berdiri sebagai pengingat bahwa identitas tidak lahir dari gedung megah atau teknologi canggih. Ia tumbuh dari ingatan budaya dan ritual yang diwariskan, dimana rumah adat yang menyimpan nilai hidup sebuah masyarakat.
Kunjungan para dekan dan delegasi Fakultas Kedokteran se-Indonesia hari itu menjadi bukti Papua bukan hanya tentang lanskap alam yang eksotis, tetapi tentang budaya yang menyambut dengan hangat dan mengajarkan bahwa sebelum ilmu bicara, adat lebih dulu membuka pintu. (RA)











