PapuaBaratDayaOnlineNews, SORONG-Bertempat di Aimas Hotel Convention Center,Kamis (29/01/26)salah satu putra terbaik Suku Moi sekaligus Bupati Sorong, Johny Kamuru, secara resmi melaunching dua buku biografi yang merekam perjalanan hidup dan pengabdiannya. Buku pertama berjudul “Jejak Jalan: Album Perjalanan Johny Kamuru 1987–2022”, dan buku kedua bertajuk “Anak Moi Pedalaman, 160 Kota Dunia: Jawaban Tuhan atas Doa dan Air Mata di Port Numbay Jayapura 1993”.

Kedua buku tersebut mengisahkan rentetan perjalanan hidup Johny Kamuru, mulai dari masa menempuh pendidikan, pergumulan hidup di perantauan, hingga proses panjang pengabdian yang membawanya dipercaya masyarakat menjadi Bupati Sorong. Kisah yang dituturkan tidak hanya memotret keberhasilan, tetapi juga memuat cerita tentang doa, air mata, kerja keras, serta nilai-nilai iman yang membentuk karakter seorang anak adat Moi hingga mampu menapaki berbagai kota di dunia dan kembali membangun tanah kelahirannya.
Kegiatan peluncuran buku ini dirangkai dengan lelang penjualan buku edisi terbatas, yang seluruh hasilnya diperuntukkan bagi pembangunan Gedung Gereja GKI Silo Malaumkarta. Acara tersebut dihadiri berbagai kalangan, mulai dari pejabat pemerintah, tokoh agama, hingga para pengusaha. Antusiasme yang tinggi menunjukkan adanya kepedulian dan semangat kebersamaan untuk berpartisipasi dalam pembangunan rumah ibadah, sekaligus memiliki buku dengan nilai sejarah dan inspirasi yang kuat.

Secara terpisah, Bupati Sorong Johny Kamuru menyampaikan rasa syukur atas terbitnya buku tersebut. Ia menilai karya ini sebagai anugerah Tuhan yang luar biasa karena dapat dibaca dan menjadi berkat bagi banyak orang.
“Saya sangat bersyukur, ini suatu anugerah yang luar biasa. Tadi khusus para pendeta kita bagikan gratis, sedangkan untuk masyarakat umum kita lakukan lelang terbuka. Puji Tuhan, dalam waktu singkat berhasil terkumpul dana sebesar Rp206.500.000,” ungkapnya.

Johny Kamuru berharap, buku ini tidak hanya menjadi dokumentasi perjalanan pribadi, tetapi juga memiliki nilai edukatif bagi generasi muda, khususnya anak-anak Papua dan Suku Moi. Ia ingin pengalaman hidup yang tertuang dalam buku tersebut dapat memotivasi untuk tidak mudah menyerah, terus berjuang dalam pendidikan, serta tetap berpegang pada iman dan nilai-nilai budaya.
“Semoga buku ini memberi inspirasi bahwa keterbatasan bukanlah penghalang untuk bermimpi besar dan mengabdi. Dengan doa, kerja keras, dan kejujuran, setiap anak daerah punya kesempatan yang sama untuk berhasil dan kembali membangun tanahnya,” pungkasnya.(RA)











