PapuaBaratDayaOnlineNews,SORONG-Musyawarah organisasi kerap berakhir sebagai seremoni: pidato, foto bersama, lalu aktivitas meredup tanpa jejak program yang terukur. Musyawarah ke-V Ikatan Pemuda Pelajar Mahasiswa/i Mare Sorong Raya (IPPMM-SR) di Gedung LPTQ Aimas, Kabupaten Sorong, Rabu (11/02/2026), diingatkan agar tidak jatuh pada pola lama itu. Forum ini diminta menjadi titik balik bukan sekadar pergantian kepengurusan, melainkan momentum reformasi organisasi dan penguatan kaderisasi yang nyata.
Ketua LPEC Papua Barat Daya yang juga senior IPPMM-SR, Nebrianus Kambuaya, hadir membawa pesan yang lebih tegas dari sekadar motivasi. Ia mengingatkan bahwa organisasi kepemudaan tidak boleh puas dengan rutinitas tahunan tanpa dampak sosial yang jelas.
“Hari ini Musyawarah ke-V IPPMM Sorong Raya Provinsi Papua Barat Daya. Saya selaku pembina terus memberikan dukungan kepada adik-adik IPPMM di Sorong Raya maupun di tempat lain,” ujarnya.
Nebrianus yang pernah memimpin Ikatan Pemuda Pelajar Mahasiswa Mare di Manokwari pada 2003 menekankan bahwa musyawarah harus melahirkan arah strategis yang terukur. Baginya, organisasi adalah ruang kaderisasi serius, bukan sekadar wadah kumpul dan identitas kedaerahan.
“Melalui ikatan ini, mereka harus dikader dan dipersiapkan untuk menghadapi tantangan masa depan. Mereka adalah generasi penerus yang harus siap secara mental dan kemampuan,” tegasnya.
Ia menyoroti pentingnya sistem kaderisasi yang terstruktur: mulai dari pembinaan kepemimpinan, penguatan kapasitas akademik, hingga pelatihan kewirausahaan dan literasi digital. Tanpa itu, organisasi hanya akan menjadi nama tanpa substansi.
Lebih jauh, Nebrianus mendorong IPPMM-SR berani keluar dari zona nyaman. Organisasi mahasiswa, menurutnya, harus hadir menjawab persoalan sosial di tengah masyarakat kemiskinan, pengangguran, hingga rendahnya daya saing sumber daya manusia.
“Kalau bisa, adik-adik mulai berproses dalam kegiatan sosial dan kegiatan kemandirian ekonomi dengan bekerja sama dengan mitra pemerintah. Jangan hanya selesai musyawarah lalu organisasi tidak berjalan. Itu tidak boleh,” ujarnya lantang.

Ia menegaskan, IPPMM-SR yang telah berbadan hukum dituntut lebih profesional dalam tata kelola. Transparansi keuangan, perencanaan program berbasis kebutuhan anggota, serta evaluasi berkala harus menjadi standar baru.
“Karena sudah berbadan hukum, maka manajemennya harus lebih baik lagi dan kaderisasinya harus kuat. Kalau tekun mereka, saya percaya adik-adik ini akan menjadi orang-orang yang berguna, khususnya di Papua Barat Daya,” katanya.
Di sisi lain, Nebrianus juga menyentil peran pemerintah daerah. Ia berharap perhatian terhadap organisasi kepemudaan tidak berhenti pada wacana, tetapi diwujudkan dalam dukungan konkret baik fasilitas, pembinaan, maupun kemitraan program.
“Kami berharap pemerintah, khususnya Kabupaten Maybrat, bisa memberi perhatian karena adik-adik ini adalah aset bangsa yang harus didukung,” tegasnya.
Ia menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Provinsi Papua Barat Daya atas hibah pembangunan asrama mahasiswa Mare. Namun, ia berharap dukungan serupa juga datang dari Pemerintah Kabupaten Maybrat agar pembinaan generasi muda tidak timpang.
Sebagai simbol komitmen, Nebrianus menyerahkan satu unit komputer kepada IPPMM-SR. Bantuan yang bersumber dari LPEC dan dukungan pribadinya itu diharapkan menjadi sarana peningkatan kapasitas administrasi dan produktivitas organisasi.
“Dukungan ini berupa satu unit komputer untuk memotivasi mereka. Supaya mereka merasa ada dukungan dari senior dan bisa memanfaatkan fasilitas ini untuk pengembangan organisasi,” jelasnya.
Musyawarah V IPPMM-SR kini diuji: apakah mampu melahirkan kepengurusan yang berani berbenah dan bekerja, atau kembali terjebak dalam siklus stagnasi. Generasi muda Mare di Sorong Raya membutuhkan organisasi yang hidup yang programnya berjalan, kaderisasinya nyata, dan kontribusinya terasa.
Di tengah kompetisi global dan dinamika pembangunan Papua Barat Daya, IPPMM-SR ditantang menjadi lokomotif perubahan. Bukan hanya menjaga eksistensi, tetapi membangun kualitas. Bukan sekadar hadir, tetapi berdampak. Masa depan generasi muda Mare ditentukan oleh keseriusan mereka hari ini dalam mengelola organisasi dengan visi, disiplin, dan integritas. [RA]











