Papua Barat Daya Online News, SORONG-Langkah mulia diambil oleh Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi Papua Barat Daya, Fraksi Partai Golkar Febri Jein Andjar. Dalam komitmennya membangun tanah Papua, ia memutuskan untuk mewakafkan tanah pribadinya demi kemaslahatan umat Islam, dengan fokus utama pada pengembangan dunia pendidikan sejak usia dini.
Langkah ini bukan sekadar bantuan materi, melainkan sebuah investasi jangka panjang untuk mencetak generasi emas Papua yang cerdas secara intelektual dan berakhlak mulia.
Pada awalnya, Febri Jein Andjar membayangkan tanah yang diwakafkannya ini bisa menjadi pusat syiar dan kreativitas Islam. Ia memikirkan sebuah ekosistem di mana seluruh kegiatan keagamaan dan kebudayaan bisa melebur menjadi satu.
Dalam benaknya, lahan tersebut sangat ideal jika ke depan dapat digunakan untuk berbagai kegiatan produktif umat, mulai dari pengembangan seni musik muslim seperti hadroh dan qasidah, pembinaan seni tari muslim bernuansa islami, hingga kegiatan komunitas seperti pengajian dan musyawarah warga.
”Niat awal saya memikirkan bagaimana tanah ini bisa menjadi wadah bagi seluruh kegiatan umat Islam. Saya ingin anak-anak muda kita punya ruang untuk berekspresi, seperti belajar seni musik muslim, seni tari muslim, atau kegiatan keagamaan apa pun yang positif. Namun, setelah merenungkan kembali, saya menyadari bahwa fondasi paling mendasar dari kemajuan suatu daerah adalah pendidikan. Oleh karena itu, saat ini pemanfaatan lahan kami fokuskan sepenuhnya pada pengembangan pendidikan anak usia dini,” ujar Febri Jein Andjar saat diwawancarai, Senin(13/07/26)
Fokus tersebut kini telah berwujud nyata melalui berdirinya PAUD Baitul Ilmi. Menariknya, sekolah ini didedikasikan khusus untuk putra-putri Asli Papua dan seluruh fasilitasnya diberikan secara gratis. Para orang tua tidak perlu memikirkan biaya pendaftaran, iuran bulanan, bahkan hingga seragam sekolah anak-anak mereka karena semuanya sudah ditanggung sepenuhnya.

Perkembangan jumlah siswa di PAUD Baitul Ilmi juga menunjukkan antusiasme masyarakat yang sangat tinggi. Berdasarkan data awal, pendaftaran sebenarnya dibuka dengan target awal empat belas siswa saja.
Namun alhamdulillah, seiring berjalan waktu pada masa awal masuk sekolah, terdapat penambahan siswa dan siswi baru hingga kini tercatat sudah ada dua puluh anak yang terdata aktif belajar di sana.
Tingginya minat masyarakat tersebut sempat membuat pihak pengelola harus membatasi penerimaan pada gelombang awal ini. Hal tersebut terpaksa dilakukan karena adanya keterbatasan ruang kelas yang ada saat ini demi menjaga kenyamanan serta efektivitas proses belajar-mengajar anak-anak.
”Alhamdulillah, melihat antusiasme warga, dari data awal 14 anak, sekarang sudah bertambah menjadi 20 siswa-siswi yang belajar di sini. Karena keterbatasan ruangan yang ada saat ini, kami memang terpaksa membatasi penerimaan di awal demi kenyamanan belajar anak-anak. Tetapi, kami tidak akan berhenti di sini.Kami sedang mengupayakan pengembangan fasilitas, sehingga tidak menutup kemungkinan untuk tahun ajaran berikutnya kuota akan kami buka lebih luas agar bisa merangkul lebih banyak anak-anak kita dan perlu digaris bawahi disini kami lebih memfokuskan kepada saudara-saudara kita yang sangat membutuhkan namun orangtuanya kesulitan karena faktor biaya,nah disinilah peran sekolah mendidik mereka sehingga semua bisa mendapatkan pendidikan yang baik.” tambahnya dengan nada optimis.
Langkah yang diambil oleh Febri Jein Andjar ini bukan sekadar aksi sosial spontan, melainkan sebuah jawaban konkret terhadap program strategis nasional. Jika mengacu pada target Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, pemerintah Indonesia sejak lama telah mencanangkan program satu desa atau satu kampung wajib memiliki minimal satu PAUD.
Pemerintah melalui Peraturan Presiden dan regulasi kementerian menegaskan bahwa pendidikan anak usia dini adalah fase usia emas yang menjadi penentu karakter dan kecerdasan anak sebelum mereka memasuki sekolah dasar. Oleh karena itu, ketersediaan layanan PAUD di tingkat terkecil seperti kampung wajib hadir agar tidak ada anak Indonesia, terutama di wilayah pelosok seperti Papua, yang tertinggal dalam mendapatkan stimulasi pendidikan.
Di Papua Barat Daya sendiri, tantangan geografis dan keterbatasan infrastruktur seringkali membuat implementasi program satu kampung satu PAUD dari pemerintah berjalan lambat. Di sinilah aksi nyata Febri Jein Andjar menjadi sangat krusial.
”Pemerintah pusat melalui kementerian terkait selalu menekankan pentingnya satu kampung satu PAUD untuk mengejar ketertinggalan pendidikan di daerah. Hadirnya PAUD Baitul Ilmi yang kami gratiskan khusus bagi putra-putri asli Papua ini adalah bentuk ikhtiar kami untuk menjawab tantangan tersebut.Kita tidak bisa hanya menunggu, kita harus bergerak bersama demi masa depan generasi emas Papua,” pungkas Febri.
Dengan mewakafkan tanahnya dan mendirikan PAUD Baitul Ilmi secara gratis, ia telah menjawab langsung tantangan pemenuhan hak pendidikan tersebut. Beliau memotong jalur birokrasi yang panjang dengan langsung menyediakan fasilitas nyata di tengah masyarakat, memastikan putra-putri asli Papua mendapatkan hak pendidikan usia dini yang layak dan setara.
Langkah politisi perempuan Papua Barat Daya ini diharapkan dapat menjadi pemantik bagi pihak-pihak lain untuk bersama-sama bergotong-royong membangun kualitas sumber daya manusia di tanah Papua. [AR]











Komentar
Silakan login untuk berkomentar.