Papua Barat Daya Online News, SORONG-Potensi bencana gempa bumi dan tsunami yang dipicu oleh aktivitas tektonik aktif di wilayah Papua Barat Daya terus menjadi perhatian mendesak. Demi memperkuat kesiapsiagaan serta kapasitas mitigasi masyarakat, khususnya di kawasan pesisir, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) resmi membuka Sekolah Lapangan Gempa Bumi dan Tsunami (SLG) Kabupaten Sorong Tahun 2026, Selasa (28/7/2026).

Kegiatan edukasi kebencanaan tersebut berlangsung di Auditorium Gedung Pascasarjana Universitas Pendidikan Muhammadiyah (Unimuda) Sorong. Agenda strategis ini dihadiri oleh jajaran pimpinan BMKG, Pemerintah Kabupaten Sorong, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), unsur TNI/Polri, kalangan akademisi, insan media, hingga perwakilan masyarakat pesisir.
Secara geologis, Kabupaten Sorong dan sekitarnya bertengger tepat di atas lintasan jalur tektonik kompleks, terutama akibat keberadaan Zona Sesar Sorong (Sorong Fault Zone). Catatan sejarah merekam wilayah Papua Barat Daya memiliki rekam jejak kegempaan destruktif, seperti gempa Sorong-Raja Ampat pada 1923 dan 1925 ber-magnitudo M > 7,0, serta gempa Sorong pada September 2015 ber-magnitudo M 6,8 yang merusak berbagai infrastruktur.
Kepala Stasiun Geofisika Sorong, Dedy Irjayanto, menegaskan pentingnya penguatan pemahaman masyarakat mengenai rambu bahaya, pemanfaatan sistem peringatan dini (early warning), serta aksi respon cepat mandiri (early action).
”Mengusung tema ‘Pahami Potensi dan Aksi Cepat Menjadi Pengabdi Tsunami Menuju Indonesia Emas 2045’, kegiatan ini merupakan implementasi nyata Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2009 tentang Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika,” ujar Dedy.
Dedy menjelaskan, sebanyak 50 peserta yang terdiri dari perwakilan BPBD, Basarnas, TNI/Polri, Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) terkait, media, hingga elemen masyarakat dilibatkan untuk memperkuat sinergi inter-instansi. Rangkaian agenda dirancang komprehensif, mencakup pemaparan materi, diskusi kelompok, Table Top Exercise (TTX), hingga penyusunan rencana kontinjensi serta penetapan jalur evakuasi bencana.

Kepala Balai Besar BMKG Wilayah V Papua, Justuz Rumakiek, menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan ini serta sinergi lintas instansi yang terjalin di Kabupaten Sorong.
”Harapan kami, kegiatan ini bisa membantu mengedukasi kita semua di Kabupaten Sorong untuk bisa waspada terhadap dampak bencana, terutama gempa bumi dan tsunami,” kata Justuz.
Ia juga menyampaikan terima kasih atas dukungan berkelanjutan dari Komisi V DPR RI sebagai mitra kerja pemerintah yang senantiasa mendukung operasional dan penyebaran informasi BMKG kepada publik.
”Kami berterima kasih buat Komisi V yang selalu mendukung kami sebagai mitra kerja pemerintah, sehingga kami di BMKG akan terus eksis dalam memberikan informasi kepada masyarakat, khususnya di Provinsi Papua Barat Daya dan Kabupaten Sorong,” tutur Justuz.
Justuz berharap para peserta pelatihan dapat menjadi agen perubahan yang meneruskan ilmu mitigasi bencana kepada warga di lingkungan tempat tinggal masing-masing.

Pemerintah Kabupaten Sorong memberikan apresiasi tinggi atas langkah proaktif BMKG. Dalam arahannya, Wakil Bupati Sorong, Ahmad Sutedjo, menekankan bahwa karakter bencana yang tak terduga menuntut kesiapsiagaan di semua tingkatan.
”Gempa bumi itu datang tidak diundang, pulang tidak diantar seperti jelangkung. Karena itu, kesiapsiagaan tidak boleh ditawar. Saya meminta agar materi edukasi mitigasi seperti ini juga diterapkan dan disosialisasikan secara masif di sekolah-sekolah,” tegas Ahmad Sutedjo.

Dukungan serupa disampaikan oleh Anggota DPR RI Komisi V Fraksi Partai Demokrat Faujia Helga Br. Tampubolon. Ia mengapresiasi tinggi inisiatif BMKG dalam membangun kesadaran kolektif warga.
”Harapannya, ilmu mitigasi yang didapat hari ini tidak berhenti di ruangan ini, tetapi disebarluaskan agar masyarakat kita semakin tangguh dan siap menghadapi potensi risiko bencana,” ungkap Faujia.
Penyelenggaraan SLG di lingkungan Unimuda Sorong ini menjadi momentum krusial memperkuat skema kolaborasi pentahelix menghubungkan pemerintah, akademisi, komunitas, dan media untuk mewujudkan masyarakat Papua Barat Daya yang tangguh bencana.[AR]












Komentar
Silakan login untuk berkomentar.