Papua Barat Daya Online News,SORONG-Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Kadisdikbud) Kabupaten Sorong, Andreas Taa, menegaskan pentingnya menjaga kelestarian Noken Papua sebagai warisan budaya dunia yang telah diakui secara internasional. Langkah konkret ini diwujudkan melalui pengintegrasian keterampilan menganyam noken ke dalam program muatan lokal di lingkungan persekolahan dari tingkat dasar hingga menengah.

Dalam sebuah pernyataan resmi terkait agenda Pembinaan Sumber Daya Manusia, Lembaga, dan Pranata Adat (Pelatihan Anyaman Noken for Moi Day) yang dijadwalkan puncaknya pada 18 Juli 2026, Andreas Taa menyoroti tantangan nyata berupa pergeseran minat generasi muda yang kian menjauh dari nilai-nilai tradisional akibat arus modernisasi. Menurutnya, intervensi melalui sistem pendidikan formal mutlak diperlukan agar warisan leluhur ini tidak punah tergerus zaman.
”Noken ini adalah warisan dunia, jadi harus lestari. Upaya menjaga itu dilakukan melalui program-program pelatihan dan anyaman, sehingga bisa diwariskan secara langsung ke generasi muda. Saat ini, banyak anak muda yang mulai kurang menaruh perhatian (concern) pada hal-hal yang mereka anggap tradisional. Pandangan inilah yang harus kita ubah,” ujar Andreas Taa.
Ia menambahkan bahwa peran “mama-mama” Papua yang memiliki keterampilan tinggi dalam menganyam noken sangat sentral dalam mentransfer ilmu tersebut kepada para pelajar. “Kita harus bergerak bersama agar keahlian dari mama-mama Papua yang cerdas dan pintar menganyam noken ini tetap hidup dan diturunkan secara langsung kepada anak-anak kita,” tambahnya.
Lebih lanjut, Andreas menjelaskan bahwa implementasi pelestarian ini telah mulai diterapkan di berbagai sekolah di wilayah Sorong dalam bentuk mata pelajaran muatan lokal. Melalui kebijakan ini, para siswa diberikan alokasi jam khusus untuk praktik langsung membuat anyaman noken, sehingga tidak hanya memahami noken dari segi teori atau sejarah, tetapi juga menguasai teknik pembuatannya.
Pihak Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Sorong juga tengah merancang kebijakan strategis jangka panjang berbasis instruksi resmi. Kadisdikbud mengemukakan rencana masa depan untuk menerbitkan surat edaran formal yang mewajibkan seluruh siswa-siswi di Kabupaten Sorong mengenakan Noken Papua saat pergi ke sekolah, mengikuti jejak keberhasilan implementasi serupa di beberapa kabupaten lain di tanah Papua.
Sebagai langkah pendukung instruksi ini, dinas terkait juga akan menyelaraskan berbagai kegiatan kebudayaan sekuler seperti perlombaan Yosim Pancar dan penampilan musik akustik tradisional pada momen-momen penting seperti hari PGRI dan Hari Pendidikan Nasional guna meningkatkan rasa bangga pelajar terhadap identitas kulturalnya.
Terkait momentum Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) tahun ajaran baru ini, Andreas Taa mengakui bahwa pihaknya menerapkan kebijakan yang adaptif dan fleksibel. Rencana edaran wajib menyeluruh masih dibatasi akibat pertimbangan matang terhadap efisiensi anggaran daerah serta kondisi ekonomi dan finansial keluarga para murid yang beragam.
”Untuk komponen MPLS tahun ini, kami memang memberikan kelonggaran dan tidak mewajibkan secara kaku secara menyeluruh demi menjaga stabilitas ekonomi keluarga murid. Namun, secara prinsip dalam komponen MPLS tersebut, setiap siswa sangat diperbolehkan dan didukung penuh untuk menggunakan noken-noken Papua. Langkah bertahap ini akan terus kita dorong hingga menjadi bagian integral dari identitas harian pelajar di Sorong,” pungkasnya.[AR]











Komentar
Silakan login untuk berkomentar.