Papua Barat Daya Online News, SORONG-Yayasan Domberay Creative Project bekerja sama dengan Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia melalui Direktorat Bina Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan Masyarakat Adat (BKMA) resmi menggelar Jambore Pemuda Adat Domberay. Kegiatan bertema pelestarian dan pemajuan kebudayaan tersebut dibuka secara resmi di Rumah Etnik Papua, Distrik Aimas, Kabupaten Sorong, Papua Barat Daya, Rabu (05/08/2026).
Rangkaian kegiatan jambore ini dijadwalkan berlangsung selama sepekan, mulai 5 hingga 10 Agustus 2026 di Rumah Etnik Papua, sebelum nantinya ditutup pada puncak acara di Gedung E.C. Lambert Jitmau, Kota Sorong, pada 11 Agustus 2026.

Ketua Yayasan Domberay Creative Project, Andre Maryen, S.T., M.B.A., menjelaskan bahwa Jambore Pemuda Adat Domberay dirancang sebagai wadah rekoleksi untuk mengumpulkan pemuda-pemudi adat agar kembali mempelajari serta mendalami tradisi dan budaya di wilayah adat Domberay.
”Melalui kegiatan ini, pemuda-pemudi adat dapat menerima warisan pengetahuan kebudayaan secara langsung dari para tetua adat dan penutur cerita budaya di wilayah Domberay,” ujar Andre.
Selama enam hari di Rumah Etnik Papua, para peserta akan mengikuti berbagai agenda interaktif, di antaranya workshop budaya, pengolahan pangan lokal Papua agar memiliki nilai guna dan daya saing lebih tinggi, serta produksi film dokumenter berbasis cerita tradisi tutur bersama tim Visualisasi Ekspresi Karya Budaya.
Andre menegaskan seluruh rangkaian acara bersifat terbuka untuk umum dan gratis. Pihaknya menargetkan kehadiran sekitar 300 hingga 500 peserta, panitia, serta tamu undangan pada puncak acara di Gedung E.C. Lambert Jitmau.
”Ini merupakan ketiga kalinya kami dipercaya oleh Kementerian Kebudayaan melalui Direktorat BKMA. Ini menjadi wujud pertanggungjawaban anak muda Papua bahwa kami siap dan mampu menyelenggarakan event kebudayaan berskala lokal, nasional, hingga internasional,” tegasnya.

Pamong Budaya Ahli Madya Kementerian Kebudayaan RI, Dr. Julianus Limbeng, M.Si., menyampaikan bahwa keterlibatan generasi muda sangat krusial dalam mengenali serta mengidentifikasi kekayaan budaya daerah. Salah satu fokus utama kegiatan ini adalah eksplorasi dan pemanfaatan ragam pangan lokal.
”Kita memiliki kekayaan pangan lokal yang sangat luar biasa seperti sorgum, jelai, umbi-umbian, serealia, hingga aneka ragam sagu di Papua. Sayangnya, belakangan ini terjadi pergeseran pola konsumsi yang terlalu bergantung pada beras,” ungkap Julianus.
Menurut Julianus, mumpung para tetua adat dan empu budaya masih memiliki pengetahuan serta cerita tradisi di balik pangan lokal tersebut, pengetahuan ini harus digali kembali dan ditransfer kepada generasi muda demi mendukung ketahanan pangan berbasis kearifan lokal.
Sementara itu, Staf Ahli Bupati Sorong Bidang Kemasyarakatan, Marthen Nebore, menyambut baik dan memberikan apresiasi tinggi atas terselenggaranya Jambore Pemuda Adat Domberay. Ia menegaskan Pemerintah Kabupaten Sorong berkomitmen untuk terus mendukung kreativitas pemuda adat.

”Pemuda harus kita dorong karena masih banyak potensi budaya yang perlu digali dan dikembangkan. Kehadiran Rumah Etnik Papua di Aimas ini harus menjadi perhatian penuh pemerintah daerah untuk memberikan support berkelanjutan,” tutur Marthen.
Ia menambahkan, Pemkab Sorong akan mendorong kolaborasi antara panitia pelaksana, organisasi perangkat daerah (OPD) terkait, kepala distrik, hingga kepala kampung guna menginventarisasi potensi budaya yang ada di daerah.

”Kolaborasi antara pemerintah daerah, panitia, dan kementerian ini sangat penting. Ini membuktikan bahwa pemerintah pusat melihat ada potensi besar yang harus digali, ditopang, dan didukung agar pemuda Papua semakin berenergi dalam mengangkat kebudayaan lokal,” pungkasnya.[AR]











Komentar
Silakan login untuk berkomentar.