Papua Barat Daya Online News, SORONG-Pemerintah Kabupaten Sorong melalui Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan kembali menggelar Kontes Ternak Sapi Bali tingkat kabupaten. Ajang tahunan ini diselenggarakan guna memacu semangat para peternak lokal, menjaga mutu genetik ternak, serta menekan ketergantungan pasokan daging sapi dari luar daerah.
Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kabupaten Sorong, Margriet Beatriks Hendrika Nauw, S.Pt., menjelaskan bahwa program bertajuk Peningkatan Genetik Sumber Daya Ternak ini dibiayai penuh melalui Dana Otonomi Khusus (Otsus). Oleh sebab itu, kepesertaan kontes difokuskan secara khusus bagi para peternak dari kalangan Orang Asli Papua (OAP).

Margriet mengungkapkan bahwa Sapi Bali merupakan genetik ternak asli Indonesia yang paling tangguh beradaptasi dengan iklim tropis di Papua. Namun, hasil pengamatan lapangan menunjukkan adanya kecenderungan penurunan bobot dan kualitas genetik sapi dari tahun ke tahun.
”Sapi Bali ini biasa dibilang sapi yang tahan banting. Dia mau dilepas dengan cara pemeliharaan ekstensif di lapangan, kena sinar matahari panas maupun hujan, tetap bisa bertahan,” kata Margriet.
Ia membeberkan sejumlah perihal yang sering terjadi di tingkat peternak, di mana sapi berkualitas unggul justru dijual lebih awal untuk kebutuhan ekonomi mendesak. Sementara sapi yang berpostur kecil atau memiliki genetik kurang baik akibat perkawinan sedarah (inbreeding) justru dipertahankan untuk berkembang biak.
”Kebanyakan yang kami temui di lapangan, peternak menjual ternaknya yang bagus yang kita anggap memiliki bobot badan yang baik dan bisa menghasilkan keturunan yang baik itu dijual duluan. Kemudian yang kecil-kecil, yang genetiknya dinilai kurang baik, itu yang dia pertahankan. Ketika dipertahankan dan dilakukan persilangan lagi, itu sudah menghasilkan bibit yang kurang bagus,” jelasnya.
Melalui kontes ini, pihak dinas berupaya memetakan dan mengidentifikasi Sapi Bali unggulan di setiap wilayah. Pemerintah daerah memberikan motivasi agar peternak mempertahankan sapi berbobot baik untuk proses budidaya hingga tidak produktif lagi, bukan langsung menjualnya saat masih dalam masa emas.

Kegiatan kontes ternak ini diikuti oleh perwakilan peternak dari enam distrik di Kabupaten Sorong, meliputi Distrik Mariat, Salawati, Klamono, Konhir, Wemak, hingga Distrik Beraur termasuk kawasan Wisbiak. Guna menjamin transparansi dan kualitas penilaian, Pemkab Sorong melibatkan tim juri independen yang terdiri dari akademisi Fakultas Peternakan Universitas Negeri Papua (UNIPA) serta praktisi senior di bidang peternakan.
Pada kesempatan yang sama, Wakil Bupati Sorong, Ahmad Sutedjo, menegaskan bahwa kontes ini bukan sekadar ajang adu estetika penampilan hewan, melainkan memiliki dampak ekonomi langsung bagi kesejahteraan warga.
”Tujuannya adalah intinya kepada ekonomi: pendapatan dan penghasilan daripada peternak-peternak itu agar lebih semangat dan lebih mencintai kepada ternaknya,” tegas Ahmad Sutedjo.
Ia menambahkan bahwa menjadi juara dalam kontes membutuhkan ketelatenan dan keuletan ekstra dari peternak. Sapi yang dirawat dengan penuh perhatian tentu akan menampilkan kondisi fisik yang jauh lebih prima dibanding ternak biasa.

”Yang berhasil menjuarai itu tentunya yang benar-benar telaten, ulet merawat ternaknya, sehingga pada waktu dinilai, kondisi ternak itu lebih baik dan lebih super daripada yang lain. Itu perlu ketelatenan, perlu cinta dan kasih sayang,” tuturnya.
Ahmad Sutedjo juga menyoroti tingginya kebutuhan daging sapi di wilayah Kabupaten Sorong dan Provinsi Papua Barat Daya yang hingga kini belum sepenuhnya terpenuhi oleh produksi peternak lokal. Keterbatasan pasokan membuat daerah masih harus mendatangkan sapi dari luar daerah.
”Kebutuhan daging di Kabupaten Sorong dan sekitarnya, di Provinsi Papua Barat Daya, ini masih sangat kurang. Karena kita masih membutuhkan sapi-sapi dari luar, terutama dari Seram. Ini adalah merupakan peluang bagi kita,” pungkas Wakil Bupati Sorong tersebut. [AR]











Komentar
Silakan login untuk berkomentar.