Papua Barat Daya Online News, SORONG -Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Papua Barat merilis perkembangan sejumlah indikator ekonomi Papua Barat dan Papua Barat Daya, mulai dari inflasi, pertanian, ekspor, pariwisata hingga transportasi.
Rilis Berita Resmi Statistik tersebut disampaikan Kepala BPS Provinsi Papua Barat, Ir. Merry, M.P., di ruang rapat Kantor BPS Kabupaten Sorong, Senin (2/11/2026).
Di Papua Barat, inflasi Oktober 2026 tercatat 0,93 persen, sedangkan Papua Barat Daya sebesar 0,46 persen.
“Angka inflasi ini menggambarkan perkembangan harga barang dan jasa yang dikonsumsi masyarakat. Karena itu, data ini penting untuk menjadi dasar pemerintah dalam mengambil kebijakan yang berkaitan dengan daya beli masyarakat,” kata Merry.
Sementara itu, Nilai Tukar Petani (NTP) Papua Barat mencapai 105,75, sedangkan Papua Barat Daya 109,45.
“Kenaikan NTP menunjukkan adanya perkembangan positif pada kondisi petani. Namun, yang paling penting adalah bagaimana peningkatan tersebut dapat terus dijaga sehingga memberikan dampak terhadap pendapatan dan kesejahteraan petani,” ujarnya.
Pada sektor perdagangan, ekspor Papua Barat mencapai US$251,92 juta pada September 2026. Sebagian besar berasal dari komoditas bahan bakar mineral. Adapun ekspor Papua Barat Daya mencapai US$1,46 juta, terutama dari komoditas ikan dan udang.
Menurut Merry, potensi ekonomi daerah perlu terus dikembangkan agar memberikan manfaat yang lebih luas.
“Data ekspor tidak hanya menunjukkan nilai perdagangan, tetapi juga dapat menjadi gambaran potensi ekonomi daerah. Tantangannya adalah bagaimana potensi tersebut dapat memberikan nilai tambah, membuka lapangan kerja, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” katanya.
Di sektor pariwisata, tingkat penghunian kamar hotel bintang di Papua Barat Daya mencapai 48,08 persen pada September 2026.
“Pertumbuhan pariwisata harus diikuti dengan kesiapan masyarakat dan pelaku usaha. Ketika kunjungan wisatawan meningkat, sektor transportasi, hotel, restoran, UMKM, dan usaha masyarakat juga diharapkan ikut bergerak,” ujar Merry.
Sementara di sektor transportasi udara, Papua Barat Daya mencatat 88.859 penumpang pada September 2026.
Merry mengatakan data statistik tersebut dapat menjadi bahan evaluasi bagi pemerintah dan pemangku kepentingan.
“Statistik bukan hanya angka, tetapi merupakan gambaran kondisi masyarakat dan perekonomian. Karena itu, data harus dimanfaatkan sebagai dasar perencanaan agar kebijakan yang dibuat benar-benar menjawab kebutuhan masyarakat di lapangan,” katanya.
Ia menambahkan, perkembangan ekonomi daerah perlu dilihat secara menyeluruh, termasuk dari sisi harga, produksi, pendapatan masyarakat, perdagangan, pariwisata, dan konektivitas.
“Harapannya, perkembangan yang tercermin dalam data statistik dapat terus diikuti dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat Papua Barat dan Papua Barat Daya,” kata Merry.[AR]
Follow WhatsApp Channel papuabaratdayaonlinenews.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow
Komentar
Silakan login untuk berkomentar.