PapuaBaratDayaOnlineNews, SORONG-Upaya menekan angka perkawinan anak di wilayah Papua Barat Daya terus didorong melalui pendekatan budaya dan keagamaan. Program INKLUSI (Kemitraan Australia-Indonesia untuk Masyarakat Inklusif) menggandeng tokoh adat, organisasi keagamaan, dan kelompok perempuan dalam dialog lintas sektor mengenai pencegahan perkawinan anak di Almas Hotel.Kamis (12/03/26)

Ketua GOW Kabupaten Sorong, Hj. Suryani Sutejo, mengatakan ada sejumlah langkah strategis yang perlu dilakukan bersama untuk menekan praktik perkawinan anak. Langkah tersebut antara lain memperkuat advokasi dengan mendorong tokoh adat memasukkan prinsip perlindungan anak dalam setiap prosesi maupun aturan adat di tingkat komunitas, meningkatkan edukasi berkelanjutan kepada orang tua mengenai pentingnya pendidikan bagi anak perempuan dibandingkan menikahkan mereka pada usia dini, serta melakukan mitigasi risiko dengan mengidentifikasi faktor-faktor pendorong perkawinan anak seperti tekanan ekonomi keluarga dan terbatasnya akses informasi serta pendidikan.
Suryani menekankan bahwa upaya pencegahan perkawinan anak tidak bisa hanya mengandalkan kebijakan pemerintah semata, melainkan membutuhkan dukungan sosial dari masyarakat luas, terutama tokoh adat dan tokoh agama.
“Ketika tokoh adat dan tokoh agama berbicara bersama tentang perlindungan anak, maka masyarakat akan lebih mudah menerima perubahan,” kata Suryani.

Bupati Sorong Johny Kamuru yang turut hadir dalam kegiatan tersebut menyatakan dukungannya terhadap langkah kolaboratif yang dilakukan organisasi perempuan dan keagamaan dalam mencegah perkawinan anak.
Menurutnya,pencegahan perkawinan usia dini merupakan investasi penting bagi kualitas generasi mendatang di Kabupaten Sorong. Pemerintah daerah, kata Johny, siap mendukung berbagai inisiatif yang bertujuan melindungi anak dan meningkatkan kualitas sumber daya manusia di daerah tersebut.
“Pemerintah daerah tentu mendukung langkah-langkah yang dilakukan GOW bersama NU dalam upaya pencegahan perkawinan dini. Ini penting karena generasi yang kita siapkan ke depan harus menjadi generasi yang berkualitas,” ujar Johny.
Ia menambahkan, anak-anak yang memiliki kesempatan menyelesaikan pendidikan dan tumbuh dengan kondisi kesehatan yang baik akan memiliki peluang lebih besar untuk berkontribusi dalam pembangunan daerah.
“Kalau generasi muda kita dipersiapkan dengan baik pendidikannya cukup dan kesehatannya terjaga maka mereka yang nantinya akan memajukan Kabupaten Sorong,” kata dia.
Melalui dialog lintas sektor tersebut, para peserta berharap pembahasan tidak berhenti pada forum diskusi semata. Tokoh adat yang hadir diharapkan dapat membawa gagasan serta komitmen perlindungan anak kembali ke komunitas masing-masing.

Dengan semangat kemitraan Indonesia-Australia, program INKLUSI berkomitmen terus mendorong terciptanya masyarakat yang lebih inklusif dan ramah anak, sehingga generasi muda dapat tumbuh dan berkembang tanpa bayang-bayang perkawinan di bawah umur.[RA]











