Papua Barat Daya Online News, SORONG Kehadiran Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Baitul ’Ilmi menjadi jawaban nyata atas kerinduan masyarakat adat terhadap akses pendidikan usia dini yang dekat dan terjangkau. Sekolah yang dikhususkan bagi putra-putri asli Papua ini menyelenggarakan seluruh layanan pendidikan secara gratis, termasuk penyediaan seragam dan perlengkapan belajar bagi para siswa.
Kepala Sekolah sekaligus Guru PAUD Baitul ’Ilmi, Nafadza Fadlilah Chaniago menyatakan, antusiasme orang tua di lingkungan sekitar sangat tinggi sejak hari pertama sekolah dibuka. Faktor utamanya karena sebelumnya wilayah tersebut belum memiliki fasilitas PAUD, sementara akses ke sekolah terdekat sangat jauh terlebih angkutan transportasi umum hampir tidak ada yang melintas hanya bisa dilalui dengan kendaraan pribadi.
”Respon orang tua sangat baik dan mereka sangat antusias mendukung program kami. Di lingkungan ini sebelumnya belum ada sekolah PAUD. Mayoritas penduduk di sini bermobilitas dengan berjalan kaki, sementara jarak ke sekolah lain cukup jauh. Ini alamatnya itu kalau dipeta Jl.Aimas-Seget ,Malawele.Tapi masyarakat sekitar lebih memahami Jalan terong kontener yang mau Petrose lokasinya pas sebelah kanan nya”ujar Nafadza di Sorong.Senin (13/07/26)
Tingginya minat masyarakat membuat kuota awal yang direncanakan sebanyak 14 siswa langsung melonjak. Berdasarkan data terbaru, saat ini telah terdata 20 siswa-siswi aktif yang mengikuti proses pembelajaran di PAUD Baitul ’Ilmi.
Meski demikian, keterbatasan kapasitas ruangan membuat pihak sekolah terpaksa membatasi penerimaan peserta didik pada periode awal ini demi menjaga efektivitas belajar. Pihak manajemen memastikan tidak menutup kemungkinan untuk memperluas daya tampung pada tahun ajaran berikutnya seiring rencana pengembangan fasilitas.
Menjawab Amanat Regulasi Negara
Langkah yang diambil oleh PAUD Baitul ’Ilmi ini secara langsung menjawab program strategis pemerintah pusat. Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) bersama Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Kemendes PDT) terus memperkuat komitmen program “Satu Desa Satu PAUD”.
Kebijakan ini dipertegas dalam Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 18 Tahun 2018 tentang Penyediaan Layanan Pendidikan Anak Usia Dini, yang mengamanatkan pemerintah daerah hingga pemerintah desa untuk mengupayakan ketersediaan minimal satu satuan PAUD di setiap desa atau kampung. Sinergi ini diperkuat seiring implementasi perluasan akses Wajib Belajar 13 Tahun guna menjamin hak pendidikan anak sejak usia dini, terutama di wilayah pelosok dan tertinggal yang minim akses transportasi.
Dalam pelaksanaan operasionalnya, PAUD Baitul ’Ilmi menerapkan Kurikulum Merdeka dengan pendekatan metode Deep Learning (pembelajaran mendalam) berbasis alam. Aktivitas sekolah berlangsung setiap Senin hingga Jum’at, mulai pukul 07.30 hingga 10.30 WIT.
Nafadza menjelaskan bahwa fokus pembelajaran saat ini diarahkan pada pengenalan global secara umum, seperti pembentukan karakter dasar, kemampuan bersosialisasi, serta pengenalan angka dan huruf. Melalui pendekatan alam, anak-anak diajak berinteraksi langsung dengan lingkungan sekitar sebagai media belajar agar proses transfer ilmu berjalan lebih kontekstual, adaptif, dan menyenangkan bagi anak-anak asli Papua. [AR]











Komentar
Silakan login untuk berkomentar.