Papua Barat Daya Online News,SORONG-Pemerintah Kabupaten Sorong melalui Tim Penggerak PKK dan Dharma Wanita Persatuan Kabupaten Sorong berkolaborasi dengan Densus 88 Satgaswil Papua Barat serta program INKLUSI menggelar kegiatan Sosialisasi Bina Remaja Usia Sekolah. Acara bertema Generasi Muda Cemerlang ini berlangsung di SMK Negeri 2 Kabupaten Sorong, Jalan Petrocina KM 24, Kelurahan Majaran, Distrik Salawati, pada Jumat,(21/08/26)
Kegiatan yang dimulai sejak pukul 08.00 WIT ini dirancang khusus untuk membekali para siswa dengan pemahaman komprehensif terkait ancaman radikalisasi, bahaya keterpaparan paham separatisme, serta dampak serius pernikahan dini.

Saat ditemui di sesi wawancara usai pelaksanaan kegiatan, Ketua TP-PKK Kabupaten Sorong Junita Linda Kamuru menyampaikan peringatan keras mengenai maraknya pola perekrutan kelompok radikal yang membidik pelajar sebagai target utama. “Anak-anakku sekalian harus paham, kelompok radikal dan separatis hari ini tidak lagi hanya bergerak di lapangan, tetapi menyusup langsung ke genggaman kalian melalui media sosial. Mereka memanfaatkan ego, emosi jiwa muda, serta kerentanan remaja untuk mencuci otak dengan propaganda ketidakadilan dan ajaran eksklusif,” ujar Junita kepada awak media.
Dalam wawancara tersebut, Junita menekankan bahwa sekali remaja terjebak dalam buaian doktrin kelompok separatis, masa depan yang telah dirancang akan runtuh seketika. “Ketika kalian terpengaruh dan masuk ke dalam jaringan pembentukan anggota separatis, kalian tidak hanya merusak cita-cita pribadi dan menghancurkan hati orang tua, tetapi juga berhadapan langsung dengan hukum dan ancaman tindakan kriminalitas. Jangan biarkan masa depan kalian dijadikan alat oleh pihak-pihak yang ingin memecah belah keutuhan bangsa,” terangnya.

Selain isu radikalisasi, Junita Linda Kamuru turut memberikan sorotan tajam terkait fenomena pernikahan dini yang kerap dipicu oleh kehamilan terpaksa maupun ego remaja yang tak terkendali. “Kita juga ada berkolaborasi dengan INKLUSI Australia-Indonesia terkait Pernikahan itu bukan pelarian dari masalah sekolah, dan bukan pula ajang pembuktian ego remaja. Menikah di usia sekolah akibat dorongan emosi sesaat atau situasi terpaksa adalah awal dari kesengsaraan panjang,” ungkap Junita di hadapan para wartawan Papua Barat Daya Online News.
Ia memaparkan secara mendalam deretan bahaya medis hingga sosial yang membayang-bayangi pernikahan di bawah umur. “Data dan kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa 41 persen pasangan usia remaja mengalami depresi dan gangguan mental berat karena ketidaksiapan psikologis. Secara fisik, organ reproduksi remaja belum matang sempurna, sehingga risiko pendarahan, bayi lahir stunting, hingga kematian ibu melahirkan sangat tinggi. Belum lagi kekerasan dalam rumah tangga yang sering meledak akibat ego yang belum matang,” jelasnya.
Mengakhiri sesi wawancara, Junita mengajak seluruh pihak dan para siswa untuk membentengi diri dengan literasi digital yang baik serta keberanian untuk menolak segala bentuk pergaulan bebas dan propaganda berbahaya. “Masa depan Kabupaten Sorong ada di tangan generasi muda yang cerdas, berkarakter, dan berwawasan kebangsaan kuat. Tuntut ilmu setinggi-tingginya, bijaklah menggunakan media sosial, dan katakan tidak pada radikalisasi serta pernikahan dini,” pungkasnya.
Sinergi lintas lembaga ini diharapkan mampu membentuk generasi muda Kabupaten Sorong yang cerdas, berkarakter kuat, serta berwawasan kebangsaan utuh guna menyongsong masa depan daerah yang lebih maju.[AR]












Komentar
Silakan login untuk berkomentar.