Papua Barat Daya Online News, SORONG-Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) bagi siswa baru di SMK Negeri 1 Kabupaten Sorong tahun ajaran baru ini tampil berbeda. Bekerja sama dengan Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kabupaten Sorong, sekolah ini memberikan bekal krusial terkait nilai toleransi, moderasi beragama, hingga penyuluhan sosial demi membentengi generasi muda dari potensi kerawanan sosial. Kegiatan yang berlangsung secara khidmat pada Jumat (17/07/2026) ini dihadiri langsung oleh Wakil Bupati Sorong, Ahmad Sutedjo, jajaran pengurus FKUB, kelompok Inklusi, perwakilan Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kabupaten Sorong, serta kepala sekolah dan dewan guru setempat.

Dalam pemaparan materinya di hadapan ratusan siswa baru, Wakil Bupati Sorong, Ahmad Sutedjo, menekankan pentingnya menjaga kerukunan dan membangun solidaritas antarsiswa yang memiliki latar belakang beragam. Menurut Ahmad Sutedjo, Kabupaten Sorong adalah miniatur Indonesia yang kaya akan perbedaan suku, ras, dan agama. Oleh karena itu, harmoni harus dipupuk sejak dini di lingkungan sekolah.
”Kerukunan tidak hanya berarti hidup berdampingan secara damai tanpa konflik, tetapi juga aktif membangun jembatan persahabatan. Sementara solidaritas adalah rasa kepedulian sosial untuk saling mendukung dan melindungi satu sama lain tanpa membeda-bedakan keyakinan. Kedua pilar inilah yang akan menjaga persatuan di tanah Malamoi ini tetap kokoh,” tegas Wakil Bupati dalam arahannya.

Ketua FKUB Kabupaten Sorong, Pendeta Thompson Elias, menjelaskan bahwa kegiatan edukasi ini merupakan bagian dari program kerja rutin tahunan yang menyasar generasi muda tingkat SMP dan SMA di wilayah Kabupaten Sorong selama masa MPLS berjalan. Melalui program ini, nilai moderasi beragama serta toleransi terus ditumbuhkan sejak dini di kalangan generasi muda.
”Kegiatan ini adalah kegiatan rutin yang dilakukan oleh FKUB Kabupaten Sorong untuk menanamkan dan menumbuhkan nilai moderasi beragama dari kalangan generasi muda. Hari ini kami berkunjung di SMK Negeri 1 Kabupaten Sorong dengan tujuan yang sama yaitu menanamkan nilai moderasi beragama,” ujar Pendeta Thompson Elias saat memberikan keterangan resminya.
Dalam penuturannya, Pendeta Thompson juga menambahkan bahwa materi yang disajikan tidak hanya terbatas pada masalah kerukunan beragama, melainkan juga menyentuh aspek perlindungan anak dari pernikahan usia dini. Langkah ini sengaja diambil guna menciptakan lingkungan yang aman dan mendukung perkembangan anak secara sehat.
”Materi yang diberikan adalah materi moderasi, toleransi, tapi juga kita sisipkan dengan dari inklusi mengenai pencegahan pernikahan anak usia dini. Karena menurut kami FKUB, hal ini berpengaruh juga bagi situasi keamanan, kedamaian di daerah ini khususnya dalam wilayah Kabupaten Sorong,” jelas Ketua FKUB tersebut.
Terkait jangkauan pelaksanaan program ini, Pendeta Thompson menyebutkan bahwa timnya bergerak secara aktif menyambangi sekolah-sekolah di berbagai wilayah, termasuk daerah yang lokasinya cukup menantang. Komunikasi intensif terus dibangun bersama pihak sekolah agar program ini dapat berjalan optimal sesuai kesiapan masing-masing instansi.
”Di jadwal itu ada 14 target sekolah. Tapi dia akan terkadang bertambah tergantung dengan kesiapan sekolah yang akan melaksanakan MPLS. Kami menyurati, biasanya kami menyurati resmi ke mereka, mereka tanggapi baru kami kemudian turun. Sekolah yang paling jauh kemarin adalah di SMK Negeri 2 Salawati, itu yang cukup jauh. Klamono kami kunjungi, dan besok ada di Gupi,” tambah Pendeta Thompson.

Kepala Sekolah SMK Negeri 1 Kabupaten Sorong, Anetha Laudia Swabra, menyambut hangat pelaksanaan program ini. Pihaknya menyatakan kesiapan penuh dalam memfasilitasi kebutuhan tumbuh kembang siswa baru demi mencetak generasi muda yang berkarakter, terampil, dan siap pakai di dunia industri.
”Untuk kegiatan MPLS di hari ini, kami dari SMK Negeri 1 Kabupaten Sorong memiliki kuota yang kita tampung untuk siswa baru ini sebanyak 11 rombongan belajar dengan jumlah 396 siswa. Kita melaksanakan kegiatan MPLS ini sesuai dengan juknis yang diturunkan dari pusat dan itu berlangsung selama 5 hari,” terang Anetha Laudia Swabra saat dikonfirmasi mengenai detail pelaksanaan kegiatan.
Anetha juga menjelaskan mengenai ragam keilmuan yang disediakan pihak sekolah untuk mengakomodasi minat dan bakat para siswa baru tersebut. Dari seluruh pilihan yang tersedia, bidang teknologi informasi dan komputer masih mendominasi pilihan utama para pendaftar.
”Ada 7 jurusan. Jadi 7 jurusan tersebut terbagi dari total 396 siswa tadi. Yang paling banyak itu adalah jurusan TKJ, yaitu teknik jaringan komputer dan komputer,” tutur Kepala Sekolah menjabarkan sebaran program keahlian di sekolahnya.
Di samping penanaman karakter dan pembelajaran akademik, SMKN 1 Sorong juga menaruh perhatian besar terhadap pemenuhan gizi para siswanya. Upaya ini diwujudkan melalui kelanjutan program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang telah berjalan secara berkesinambungan demi menyokong kesehatan fisik siswa selama menempuh pendidikan.
”Kami di sekolah ini sejak semester kemarin sudah mendapatkan program MBG, dan kami bersyukur karena program tersebut berjalan dengan lancar. Jadi nanti besok pada tanggal 20, sudah terjadwal lagi untuk diantarkan makanan ke sekolah. Kelas 10 masuk, ditambah dengan kelas 11 dan kelas 12, total jumlah siswa kami di sini adalah 1.064 siswa yang nantinya akan menerima program MBG,” pungkas Anetha dengan penuh rasa syukur.

Melalui rangkaian pembekalan karakter sejak MPLS dan pemenuhan gizi yang teratur, pihak sekolah optimis para siswa dapat berproses dengan optimal dan bertransformasi menjadi tenaga kerja unggulan yang siap memberikan kontribusi positif di masyarakat setelah menyelesaikan masa belajarnya. [AR]













Komentar
Silakan login untuk berkomentar.