Papua Barat Daya Online News, SORONG-Aksi pemalangan Kantor Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Sorong oleh kelompok yang mengatasnamakan Suku Besar Moi memicu kekhawatiran mendalam terhadap lumpuhnya pelayanan publik di sektor pendidikan. Pemalangan ini dipicu oleh tuntutan agar kursi Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Sorong wajib diisi oleh putra daerah dari Suku Moi.

Meski memahami aspirasi tersebut, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Sorong, Andreas Taa, menegaskan bahwa fasilitas pendidikan terutama yang menyangkut hajat hidup generasi muda sama sekali tidak boleh dikorbankan. Ia mendesak agar palang adat tersebut segera dibuka demi menyelamatkan masa depan belasan ribu siswa.
Sebagai sesama anak adat, Andreas Taa menyatakan dirinya sangat menghargai proses adat dan aspirasi yang sedang berlangsung. Namun, ia mengingatkan bahwa mengorbankan dinas pelayanan publik, khususnya pendidikan, adalah langkah yang keliru dan merugikan masyarakat luas.
”Sebagai anak adat, kami sama-sama menghargai proses yang berlangsung. Tapi bagi saya, Dinas Pendidikan tidak boleh dipalang, terutama karena ini berkenaan langsung dengan layanan publik,” ujar Andreas.
Untuk mencari jalan keluar, Andreas mengaku telah bergerak cepat membangun komunikasi dengan tokoh-tokoh adat. Kebetulan, Ketua Lembaga Masyarakat Adat (LMA) Malamoi juga menjabat sebagai salah satu Kepala Bidang di Dinas Pendidikan, sehingga koordinasi internal terus diupayakan agar pemalangan ini bisa segera diselesaikan dengan baik.
Dampak dari pemalangan ini terbilang krusial. Andreas membeberkan, saat ini ada 27 mahasiswa asal Kabupaten Sorong yang telah dinyatakan lulus program Afirmasi Pendidikan Tinggi (ADik) dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi.
Program ADik merupakan skema keberpihakan dari pemerintah pusat yang memberikan kesempatan beasiswa penuh bagi putra-putri asli Papua untuk berkuliah di berbagai perguruan tinggi terbaik di Indonesia.
”Prosedur dan syarat-syarat administrasi mereka harus segera disiapkan dan diurus oleh dinas. Kalau keadaan kantor dipalang begini, ini cukup sulit karena pegawai tidak bisa berkantor,” keluh Andreas. Jika administrasi ini terlambat, kesempatan emas ke-27 mahasiswa tersebut untuk menempuh pendidikan tinggi gratis bisa hangus.Rabu (08/07/26)
Tidak hanya itu, Kabupaten Sorong saat ini juga tengah menghadapi masa krusial kelulusan. Tercatat ada kurang lebih 12.000 lebih lulusan dari jenjang TK, SD, SMP, hingga SMA/SMK yang membutuhkan pelayanan dinas. Seluruh dokumen kelulusan, legalisir, hingga sinkronisasi data pokok pendidikan (Dapodik) harus dikerjakan secara maraton agar hak anak-anak melanjutkan pendidikan tidak terhambat.
Masalah lain yang tak kalah mendesak adalah pelaksanaan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) yang sedang berjalan pada tahun ajaran baru ini.
MPLS bukan sekadar kegiatan seremonial bagi siswa baru, melainkan fase krusial di mana Dinas Pendidikan memiliki andil penuh untuk memonitoring distribusi dan zonasi siswa dari jenjang SD hingga SMA. Pengawasan ini penting untuk memastikan seluruh anak usia sekolah tertampung dan tidak ada siswa yang kehilangan haknya untuk mendapatkan pendidikan formal akibat kendala teknis atau kuota sekolah.
”Jangan sampai gara-gara pemalangan ini, ada siswa yang tidak terpenuhi haknya untuk mendapatkan pendidikan,” tegas Andreas.
Desak Palang Segera Dibuka, Upayakan Pintu Alternatif
Mengingat urgensi yang begitu besar, Andreas Taa kembali mendesak kelompok yang melakukan aksi untuk segera membuka palang di gerbang utama Dinas Pendidikan.
Sebagai langkah darurat mengupayakan agar pembukaan akses pintu alternatif di sisi kiri dan kanan bangunan kantor. Hal ini demi memastikan para pegawai bisa kembali masuk dan menyelamatkan administrasi belasan ribu anak didik di Kabupaten Sorong.
”Saya coba terus membangun komunikasi kepada mereka supaya pemalangan di Dinas Pendidikan segera dibuka. Dan kalaupun belum, saya upayakan mereka bersedia membuka pintu alternatif di sisi kiri dan kanan bangunan agar layanan publik tetap bisa berjalan,” pungkasnya.[SA]











Komentar
Silakan login untuk berkomentar.