PapuaBaratDayaOnlineNews,SORONG-Sehari setelah api melahap habis rumah milik Jumail Gondoh (70) di Jalan Apel, Kelurahan Malagusa, Distrik Aimas, Selasa pagi (27/1/2026), puing-puing hitam masih berserakan. Bau kayu terbakar belum sepenuhnya hilang. Di atas lahan yang hangus itu, dua anggota DPRD Kabupaten Sorong terlihat turun langsung.

Ketua Fraksi PDI Perjuangan DPRD Kabupaten Sorong, Isak Yable, bersama rekannya, Hery Widyaprasetya, bergerak cepat membantu korban. Sebuah alat berat excavator dikerahkan untuk membersihkan sisa bangunan yang roboh, membuka kembali lahan agar dapat digunakan korban.
“Kami berkoordinasi langsung dengan Bapak Jumail. Beliau ingin tetap tinggal di tanah ini, meski rumahnya sudah habis terbakar. Karena itu kami bantu bersihkan puing-puing supaya bisa segera ditata ulang,” ujar Hery Widyaprasetya di lokasi.
Selain itu, Hery mengungkapkan pihaknya juga telah berkoordinasi dengan Dinas Sosial Kabupaten Sorong agar korban segera mendapatkan bantuan hunian yang layak.

“Kami sudah berkomunikasi dengan Dinas Sosial Kabupaten Sorong untuk pembangunan rumah layak huni bagi korban. Alhamdulillah, hal ini telah direspons dan di-ACC langsung oleh Kepala Dinas Sosial, Bapak Amatus Turot,” kata Hery.
Menurutnya, langkah ini penting agar korban tidak terlalu lama tinggal dalam kondisi darurat pascakebakaran, mengingat usia Jumail yang sudah lanjut dan keterbatasan penglihatan.
Di balik aksi cepat tersebut, Isak Yable melontarkan kritik keras terhadap sistem penanggulangan kebakaran di Kabupaten Sorong. Menurut dia, peristiwa di Aimas kembali membuka persoalan lama minimnya armada pemadam, lemahnya respons, dan tata kelola kelembagaan yang tumpang tindih.

“Mobil pemadam ada, tapi tidak optimal. Personelnya masih bergabung dengan Satpol PP, sehingga terjadi dual fungsi. Ini membuat respons di lapangan tidak fokus dan sering terlambat,” kata Isak.
Ia menilai, struktur yang tidak mandiri menyebabkan layanan pemadaman sulit diakses warga, terutama di kawasan padat permukiman. Padahal, dalam situasi darurat, hitungan menit sangat menentukan apakah api bisa dikendalikan atau justru menghanguskan segalanya.
Isak mendesak pemerintah daerah segera membenahi sistem secara menyeluruh, mulai dari pemisahan kelembagaan dinas pemadam kebakaran, penambahan armada, hingga peningkatan kapasitas personel. “Jangan sampai setiap kebakaran selalu berakhir dengan cerita yang sama warga berjuang sendiri dengan alat seadanya, sementara pemerintah terkesan selalu datang terlambat,” ujarnya.

Kebakaran yang menghanguskan rumah Jumail, yang diduga bermula dari pembakaran sampah di belakang rumah, menjadi pengingat bahwa risiko bencana di kawasan permukiman padat tidak bisa dihadapi dengan sistem yang setengah matang. Di tengah keterbatasan itu, langkah cepat dua anggota dewan di Aimas setidaknya memberi harapan, sekaligus menegaskan bahwa persoalan utama terletak pada tanggung jawab dalam melindungi setiap warganya. (RA)











