Papua Barat Daya Online News, SORONG-Dewan Adat Subsuku Moi Maya menyatakan dukungan penuh terhadap program Cetak Sawah Rakyat yang digulirkan pemerintah di Kabupaten Sorong, Papua Barat Daya. Program ini dinilai strategis untuk menjaga ketahanan pangan daerah sekaligus mendongkrak kesejahteraan masyarakat lokal.
Kepala Distrik Salawati Selatan yang juga perwakilan Dewan Adat Subsuku Moi Maya, Amiruddin Umalelen, menegaskan komitmennya untuk mengawal program strategis nasional maupun daerah tersebut.
”Garuda kan masih di dalam dada.Jangankan 100 persen, 1.000 persen saya tetap support pemerintah Kabupaten Sorong untuk program-program pemerintah daerah maupun pemerintah pusat,” ujar Amiruddin saat ditemui di Sekretariat Dewan Adat Moi Maya, Sabtu,(17/10/26)
Menurut Amiruddin, pemenuhan pangan merupakan kebutuhan pokok paling mendasar bagi warga. Agar program cetak sawah dapat berjalan optimal dan tepat sasaran, ia mendesak pemerintah segera membentuk tim pendamping khusus dari tingkat kampung hingga distrik.
Menjawab kekhawatiran soal potensi konflik atau tumpang tindih lahan pertanian dengan hak ulayat, Amiruddin yang juga merupakan salah satu pemilik hak ulayat menjamin bahwa masyarakat adat terbuka untuk berkolaborasi. Kuncinya, kata dia, ada pada transparansi dan kepastian batas wilayah.
”Mana yang benar dan betul untuk kesejahteraan masyarakat, itu yang harus dilakukan. Kita harus sama-sama berjalan: pemerintah, adat, dan masyarakat,” tuturnya.
Ia berjanji, apabila luasan lahan pertanian telah dipetakan secara jelas oleh pemerintah atau perusahaan pelaksana, pihak dewan adat siap mengoordinasikan dan memediasi pembukaan akses lahan bersama para pemilik hak ulayat lainnya.
Kehadiran program cetak sawah di Kabupaten Sorong diproyeksikan membawa dampak positif signifikan terhadap ekosistem pangan dan perekonomian warga lokal. Amiruddin menilai, keberadaan sawah mandiri di daerah akan mengurangi ketergantungan wilayah Papua Barat Daya pada pasokan beras dari luar pulau yang selama ini memicu tingginya biaya distribusi.
”Kalau kebutuhan beras bisa kita produksi sendiri di daerah, rantai pasok jadi lebih pendek. Otomatis biaya logistik yang mahal selama ini bisa dipangkas, sehingga harga beras di pasar lokal bisa jauh lebih terjangkau dan stabil bagi masyarakat,” kata Amiruddin.
Selain menekan harga di tingkat konsumen, keberlanjutan produksi pangan lokal ini diharapkan dapat mencegah lonjakan harga drastis (price spike) akibat gangguan cuaca atau kelangkaan pengiriman antar-pulau. Terlebih, keterlibatan warga lokal dalam mengelola lahan pertanian juga diyakini mampu membuka lapangan kerja baru dan mendongkrak daya beli masyarakat kampung.
”Selain dapat memenuhi kebutuhan pangan tentunya program ini nantinya memiliki harga jual yang representatif murah hingga bisa dijangkau masyarakat dan satu lagi program ini memanfaatkan lahan tidur yang tidak terpakai bukan menghancurkan hutan adat atau produktif, sehingga hutan tetap terjaga namun manfaat bagi masyarakatnya pun bisa dirasakan” tambahnya.
Di luar sektor pertanian, Amiruddin memanfaatkan momentum ini untuk menyuarakan aspirasi mendesak terkait minimnya infrastruktur dasar di Distrik Salawati Selatan. Terbatasnya armada transportasi darat dan laut hingga kini masih menjadi penghambat utama mobilitas warga.
Ia berharap, selain merealisasikan program cetak sawah rakyat, pemerintah pusat maupun daerah dapat memberikan perhatian ekstra untuk membenahi fasilitas kesehatan serta menyediakan armada transportasi interkoneksi yang layak di Salawati Selatan.[AR]
Follow WhatsApp Channel papuabaratdayaonlinenews.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow
Komentar
Silakan login untuk berkomentar.