Papua Barat Daya Online News SORONG-Badan Gizi Nasional (BGN) resmi meluncurkan 480 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) secara serentak di 16 provinsi dan 116 kabupaten/kota wilayah Indonesia Timur pada Jumat (2/10/2026). Provinsi Papua Barat Daya menjadi salah satu wilayah strategis yang masuk dalam jangkauan peluncuran untuk daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T).
Peresmian yang dipusatkan di Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan, ini menandai pembukaan SPPG perdana di bawah kepemimpinan Kepala BGN yang baru. Langkah ini diambil pemerintah guna memperluas akses Program Makan Bergizi Gratis (MBG) hingga ke pelosok daerah yang selama ini menghadapi keterbatasan akses pelayanan.
Kepala BGN, Sudaryono, memimpin langsung peresmian tersebut dan menegaskan pentingnya pemerataan gizi bagi anak-anak di daerah prioritas.
“Kehadiran SPPG ini bukan sekadar membangun dapur, melainkan membangun harapan bagi anak-anak di daerah yang selama ini paling sulit dijangkau. Kami hadir untuk memastikan pemerataan gizi benar-benar terwujud,” ujar Sudaryono.
Perluasan Layanan di Papua Barat Daya
Kepala Biro Sumber Daya Manusia dan Organisasi (SDMO) BGN Pusat, Rahman Rajab, menjelaskan bahwa sebanyak 15 SPPG baru resmi diaktifkan di Papua Barat Daya. Unit-unit pelayanan ini tersebar di tiga wilayah, yakni Kabupaten Sorong, Kabupaten Raja Ampat, dan Kabupaten Tambrauw.
Dari total 15 unit tersebut, rinciannya terdiri atas 1 SPPG Mitra Mandiri dan 14 SPPG 3T.
Menurut Rahman, pengaktifan SPPG di wilayah 3T merupakan wujud nyata kehadiran negara dalam mengatasi tantangan geografis serta keterbatasan akses pelayanan gizi masyarakat di pelosok.
“Walaupun jumlah penerimanya sedikit, tapi mereka membutuhkan. Di situlah negara hadir melalui BGN,” tegas Rahman.
Wakil Gubernur Papua Barat Daya, Ahmad Nausrau, memaparkan bahwa saat ini terdapat total 31 SPPG Aglomerasi dan 14 SPPG 3T yang beroperasi di wilayahnya.
Secara keseluruhan, program ini mencakup 84.180 orang penerima manfaat diantaranya67.276 orang peserta didik 11.509 orang kelompok 3B (balita, ibu hamil, dan ibu menyusui), 5.395 orang tenaga pendidik, 1.309 orang relawan.
Meski demikian, Ahmad menyoroti masih adanya tantangan operasional di lapangan, khususnya terkait wilayah yang belum terjangkau secara penuh.
Ia memohon dukungan dan atensi khusus dari BGN agar kabupaten seperti Maybrat dan Tambrauw dapat segera menyusul aktif beroperasi.
“Kami masih punya daerah yang memerlukan perhatian khusus agar bisa melayani masyarakat, terutama anak-anak Papua di pelosok,” ungkapnya.
Melalui perluasan layanan ini, BGN berharap Program MBG tidak hanya terkonsentrasi di kawasan perkotaan saja, melainkan mampu menjangkau seluruh lapisan masyarakat secara merata hingga ke wilayah terluar Indonesia. [AR]
Follow WhatsApp Channel papuabaratdayaonlinenews.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow
Komentar
Silakan login untuk berkomentar.