Papua Barat Daya Online News, SORONG- Kementerian Pariwisata (Kemenpar) Republik Indonesia terus berkomitmen mewujudkan sektor pariwisata yang ramah, adil, dan berkelanjutan bagi seluruh lapisan masyarakat. Komitmen ini ditegaskan dalam agenda Sosialisasi Tata Kelola Amenitas dan Aksesibilitas Pariwisata yang berfokus pada penguatan konsep Pariwisata Inklusif.
Kegiatan sosialisasi ini menghadirkan Jesihando R. Tulung, seorang aktivis sekaligus dosen dari Universitas Papua (Unipa), sebagai narasumber utama. Dalam pemaparannya, Jesihando menekankan prinsip dasar bahwa seluruh masyarakat berhak merasakan manfaat dari sektor pariwisata tanpa ada yang tertinggal.
Konsep ini dirancang agar tidak hanya berfokus pada kenyamanan para pengunjung, tetapi juga membawa dampak ekonomi dan sosial secara langsung bagi warga lokal di daerah tujuan wisata.
Guna memastikan manfaat pariwisata terdistribusi secara merata, pemaparan materi menggarisbawahi sejumlah pilar penting yang saling terintegrasi. Selain menjamin kenyamanan dan kemudahan akses bagi para wisatawan, program ini menempatkan masyarakat lokal sebagai pelaku utama sekaligus penerima manfaat terbesar. Kesetaraan gender juga menjadi perhatian melalui pembukaan kesempatan yang setara bagi perempuan untuk berperan aktif dalam roda ekonomi pariwisata.
Di samping itu, penyediaan sarana dan pelayanan yang ramah bagi penyandang disabilitas turut diprioritaskan agar setiap destinasi dapat diakses secara adil dan setara. Keterlibatan anak muda juga terus didorong untuk menghadirkan inovasi serta kreativitas demi menjaga keberlanjutan masa depan destinasi. Seluruh pilar ini kemudian dipadukan dengan penguatan UMKM lokal, di mana produk-produk daerah diintegrasikan langsung ke dalam rantai pengalaman wisata.
Mendorong Kolaborasi Pemangku Kepentingan
Melalui pemaparan dari akademisi dan praktisi seperti Jesihando R.Tulung, Kemenpar mengajak seluruh pemangku kepentingan mulai dari pengelola destinasi, pemerintah daerah, hingga pelaku usaha untuk berkolaborasi membenahi infrastruktur, amenitas seperti fasilitas penginapan, serta aksesibilitas pendukung di lapangan.
Dengan penerapan tata kelola yang tepat dan inklusif, pariwisata Indonesia diharapkan tidak hanya menjual keindahan alam dan budaya semata, tetapi juga mampu memberikan dampak nyata bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat secara menyeluruh. [AR]











Komentar
Silakan login untuk berkomentar.